Kamis, 02 Desember 2010

Mengenal Al Habib Ahmad bin Abdulloh Al Atthos

Astaghfirulloh al’adzhima Wa atubuilah…3X
A’udzubillahiminasy syaithonirrojim
Bismillahirohmanirrohim
Alhamdulillahirobbil alamin


MANAQIB AL HABIB AHMAD BIN ABDULLOH BIN HASAN A-ATTHOS

Silsilah nasab atau garis keturunan Al Habib Ahmad bin Abdulloh bin Hasan Al Atthoss

Habib Ahmad merupakan cucu ke-10 dari sohibur Ratib Al-Habib Umar bin Abdurrohman Al Atthos. Silsilah beliau adalah sebagai berikut: Al-Habib Ahmad bin Abdulloh bin Hasan bin Abdulloh bin Ali bin Abdulloh bin Muhammad bin Muhsin bin Imam Husein bin Al- Quthb Al- Kabir Al-Imam Al- Habib Umar bin Abdurrohman bin Aqil Al- Atthos dan nasabnya terus tersambung sampai pada Fatimah Az- Zahra binti Rosululloh.

Beliau dilahirkan di kota Ambon, Maluku pada 16 Desember 1916 M. Sejak kecil beliau diasuh dan dibimbing langsung oleh ayahandanya dan sekaligus sebagai Syeikhul fath- (guru yang membuka mata batin), guru para habaib yaitu Al-Imam Al-Habib Al-Arif Billah Abdulloh bin Hasan Al-Atthos (wafat di Jakarta tahun 1955 M).

Semenjak kecil tanda-tanda kecemerlangan dan keshalihan Habib Ahmad sudah tampak dalam dirinya, sehingga ketika belum genap berusia 16 tahun beliau sudah dapat menghafal Al Qu’ran dan kitab-kita klasik lainnya seperti “Ihya Ulumuddin’ dan beberapa kitab hadist diantaranya: kitab “Shahih Al-Bukhori” yang masyur itu.

Setelah genap berusia 16 tahun atas isyarat (petunjuk)dari ayah beliau, Al Habib Ahmad pun merantau ke Surabaya. Dan menetap di sana kurang lebih dua tahun sambil menimba ilmu dan ber-tabarruk (mengambil berkah) pada para shalihin di kota tersebut .

Setelah itu beliau pun melanjutkan perantauannya sambil berdakwah ke jalan Allah. Tujuannya adalah negara Jepang , tepatnya di Kota Kobe. Beliau pun menetap di sana kurang lebih lima tahun. Selama tinggal di Kobe, kesibukan beliau antara lain menjadi Imam Masjid Kobe, membuka percetakan Al-Qur’an, dan membuka Majlis Tash-hih Al-Quran. Diantara buah dakwah beliau selama lima tahun tinggal di negeri Sakura adalah lebih dari 1500 orang telah masuk ke agama Islam.

Setelah lima tahun tinggal di Jepang, beliau melanjutkan dakwah dan perantauannya ke negara Hong Kong dan menetap di sana kurang lebih selama dua tahun. Habib Ahmad pun terus melebarkan medan dakwahnya sehingga dapat leluasa keluar masuk negara Republik Rakyat Cina (Cina). Setelah itu, beliau berhijrah ke Singapura, menikah serta menetap di sana kurang lebih selama enam tahun.

Demi memenuhi panggilan ayahandanya, maka pada awal 1945 M beliau kembali ke Indonesia, tepatnya di kota Jakarta. Selanjutnya, berselang kemudian pada tahun 1950 M, beliau berpindah ke kota Sukabumi bersama Al-H abib Syeikh bin Salim Al-Atthos.

Pada awal tahun 1960 M, beliau berpindah lagi ke Jakarta sampai akhir hayatnya. Di kota Jakarta inilah beliau mulai membuka Majelis Dzikir Ratib Al-Atthos dan Asmaul Husna dengan metode berpindah dari satu rumah ke rumah lain (tidak bersifat menetap) . Kegiatan Majelis Dzikir ini beliau jalani bertahun-tahun dengan istiqomah, sehingga pada tahun 1967 M beliau berpindah rumah lagi dan menempati sebuah rumah di kawasan Bendungan Hilir, Gang Sepakat, Jakarta Pusat.

Di sinilah atas saran istri tercinta beliau, Syarifah Seha binti Habib Umar bin Salim Al –Atthos serta isyarat (petunjuk) dan restu dari para datuk beliau dan para sholihin, maka secara resmi Habib Ahmad membuka Majelis Dzikir Ratib Al Atthos dan Asmaul Husna pada bulan Maret 1982. Pelaksanaannya diselenggarakan setiap tanggal 14 malam 15 dari kalender Hijriyyah bertepatan dengan malam bulan purnama bertempat di rumah beliau. Jadwal ini tetap berlangsung dan istiqomah sampai beliau wafat pada tahun 1994 M.

Pada tahun 1994 (bersamaan dengan tahun wafatnya beliau) jadwal pelaksanaan Majelis Dzikir Ratib Al Atthos dan Asmaul Husna diubah menjadi setiap tanggal 25 malam 26 dari kalender Masehi dan berlangsung hingga kini.

Berkat keikhlasan beliau dalam berdakwah, hingga saat ini majelis yang beliau dirikan terus berkembang dan tercatat sudah lebih dari 1700 cabang . Jumlah tersebut tersebar ke segenap penjuru Nusantara (nasional) bahkan ke mancanegara (internasional0.

Beberapa majelis tersebut antara lain:
1. Majelis Dzikir Ratib Al Atthos dan Asmaul Husna (Pusat) setiap bulan tanggal 25 malam 26 (kalender nasional) bertempat di Jl. Bendungan Hilir Gang Sepakat,Jakarta Selatan.
2. Masjid Hj. Fathimah, Singapura setiap hari Ahad akhir bulan.
3. Masjid Wadi Hasan, Johor Baru Malaysia pada setiap Senin malam.
4. Masjid Al Bukhori, Kuala Lumpur, Malaysia.
5. Masjid Al-Falah, Gurun Kedah, Malaysia.
6. Masjid Jami, Melbourne, Australia.
7. Masjid Jami, Amsterdam, Belanda
8. Di kota London,Inggris
9. Di kota Pattani, Thailand.


Al Habib Ahmad bin Abdulloh Al Atthos wafat meninggalkan putra-putri yang menjadi penerus dalam pengembangan majelis Dzikir Ratib Al Atthos dan Asmaul Husna. Mereka adalah Al Habib Umar bin Ahmad Al Atthos, Al Habib Isa bin Ahmad Al Atthos, Al Habib Syu’aib bin Ahmad Al Atthos, Al Habib Ridho bin Ahmad Al Atthos, dan Al Habib Lutfi bin Ahmad Al Atthos.

Beliau dimakamkan di Jl. Batu Ampar III, Masjid Al Khairat, Condet , Jakarta Timur. Qubah/makam beliau hingga saat ini ramai dikunjungi para pecinta beliau. Semoga Allah SWT meninggikan derajat beliau di sisi-Nya serta memasukan ke dalam surga-Nya bersama datuk-datuk beliau, para shalihin dan orang-orang yang dicintai maupun yang mencintai beliau. Amiin.

Demikian riwayat singkat Al Habib Ahmad bin Abdulloh bin Hasan Al Atthos (cucu ke-10 dari Sohibur Ratib Al Habib Umar bin Abdurrrohman Al Atthos). Riwayat singkat ini kami sadur dan kami kumpulkan seraya berharap semoga Allah SWT memberikan innayyah-Nya kepada seluruh umat Islam, khususnya jama’ah Asmaul Husna beserta putra-putri, saudara-saudara, sanak-famili, seluruh keturunan serta para pecinta Al Habib Ahmad bin Abdulloh Al Atthos, sekaligus segenap keturunan Baginda Rasululloh SAW (ahlul bait nabawi) agar dapat mencontoh dan meneladani akhlak mulia serta mengikuti jejak beliau Al Habib Ahmad RadliayAllahu ‘Anhu.
Amin ya Robbal Alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar